Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) menyatakan duka cita mendalam dan kemarahan yang tak terbendung atas tragedi kemanusiaan yang baru-baru ini terjadi dalam aksi unjuk rasa. Seorang dari massa aksi meregang nyawa setelah ditabrak oleh mobil milik Brimob, di tengah pembubaran paksa oleh Aparat Kepolisian.
"Kekerasan ini bukan insiden biasa namun pembunuhan di ruang publik, dilakukan oleh institusi yang seharusnya melindungi. Ketika rakyat bersuara, negara justru menjawab dengan ban kendaraan taktis dan peluru gas air mata. Ini adalah bukti terang bahwa Polri, di bawah komando Jenderal Listyo Sigit Prabowo, telah kehilangan kendali moral dan kemanusiaan," tegas Raymondus Tolo, Germas PP PMKRI.
"Kami menilai, kematian ini bukan sekadar “kelalaian” teknis, tetapi bagian dari pola kekerasan sistematis yang selama ini dibiarkan tumbuh subur dalam tubuh Kepolisian. Kejadian ini adalah puncak dari kegagalan total Kapolri dalam membenahi institusinya. Nyawa rakyat tak bisa terus dikorbankan atas nama pengamanan atau stabilitas yang semu," ambung Firmus Rigo- Ketua Lembaga Politik dan Demokrasi PP PMKRI.
Ditambahkannya, "atas dasar itu, kami, Pengurus Pusat PMKRI, menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Mendesak Presiden Republik Indonesia untuk segera mencopot Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kematian massa aksi yang ditabrak mobil Brimob.
2. Menuntut pertanggungjawaban hukum atas pelaku dan atasan langsung dalam insiden ini, tanpa impunitas dan tanpa basa-basi.
3. Mendorong percepatan Reformasi Polri secara menyeluruh, agar aparat penegak hukum tidak terus-menerus menjadi pelaku kekerasan negara terhadap rakyatnya sendiri.
4. Mengajak seluruh elemen mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, dan rakyat Indonesia untuk bersatu menyuarakan perlawanan terhadap brutalitas aparat yang terus menumpuk luka dalam sejarah demokrasi kita.
"Kami tegaskan: Darah rakyat bukan tanah pijakan kekuasaan. Nyawa massa aksi bukan harga yang pantas untuk dibayar demi stabilitas palsu."
Jika hari ini kita diam, maka esok kita semua akan menjadi korban. Saatnya bersuara. Saatnya bergerak. Saatnya mencabut akar kekerasan negara.
Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat, Hidup Perlawanan," tegasnya.
(Andre Bernando Butarbutar)


Social Header