Aksi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia secara khusus meminta pada pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk membebaskan rekan mereka. "900 rekan kita masih ditahan, tidak mendapatkan makanan yang baik, dan tidak diperbolehkan membaca buku, padahal teman kita suka buku," kata Sathir narahubung aksi BEM UI.
Mahasiswa menyesali tidak dapat hadir menemui mahasiswa yang sudah menyediakan 6 kursi besi di lokasi titik aksi. Tidak satupun anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang datang menemui mahasiswa dalam Rapat Dengar Pendapat Warga.
Akhirnya mahasiswa meneruskan aksi dengan makan bergizi dari sumbangan warga masyarakat, pembacaan puisi dan orasi-orasi dari organ yang datang. "Negara masih represif pada para penyampai pendapat, pemukulan dan tindak represif yang diterima." Kata salah satu orator.
Kritik mahasiswa tidak didengar, kritik para ahli, budayawan dan buruh juga tidak didengar. Mahasiswa menyampaikan bahwa ini menjadi rambu berbahaya dalam membangun negara yang demokratis.
Penyesalan mahasiswa adalah anggapan para pengunjuk rasa adalah teroris, dianggap makar dan akhirnya dikriminalisasi secara struktural. Oleh sebab itu, pada aksi BEM UI bertajuk Dengar Pendapat Warga, mahasiswa meminta segera pihak kepolisian untuk segera melepas kan kawan-kawan mereka yang masih ditahan.
Muhamad Rizaldi dari Front Mahasiswa Nasional pada orasinya meminta pada mahasiswa untuk bersikap jelas atas represifitas aparat. "Pemerintah Prabowo Subianto sudah menjadi pemerintahan yang durjana, ada 900 lebih kawan kita yang masih ditahan, pemerintahan Prabowo adalah pemerintahan yang durjana," jelas Rizaldi.
Aksi BEM UI di Gerbang Gedung DPR RI dijaga sekitar 1 kompi aparat kepolisian yang terdiri dari polwan dan samapta. Lalulintas di depan gerbang Gedung DPR RI lalulintas terlihat ramai lancar dari arah Simpang Semanggi ke arah Petamburan. (Don).


Social Header