Breaking News

Rujukan Telemedicine dan Home Care Cageur di RSUD Cibinong

Bogor - Moralitynews.com
Pada 13 November 2026, beberapa awak media diundang hadir di acara interview bersama Dr, Eka Dewi Agustiani  Kepala Instalasi Rujukan Telemedicine dan Home Care (Cageur) dengan slogan Gancang ngubaran dulur di RSUD Bhakti Pajajaran Cibinong. Tujuannya untuk memberikan penerangan dan arahan kepada masyarakat bagaimana caranya mengetahui menggunakan jasa Cageur tersebut. 

Telemedicine dan Home Care ini didirikan pada Tahun 2023 atas arahan PLT Bupati, Iwan Setiawan, untuk memudahkan masyarakat yang membutuhkan bantuan pengobatan dan pelayanan dari Paramecia tanpa harus mendatangi Rumah Sakit. 

Konsep dari Cageur ini adalah Hospital without wall yaitu pelayanan rumah sakit yang di luar rumah sakit, pelayanan untuk kondisi pasien yang berhalangan atau sulit dibawa ke RS, akan dibantu pihak Cageur untuk mendatangi ke kantor atau kerumah pasien. 

Untuk cakupan Cageur ini sendiri ada rujukan dan akan difasilitasi melalui SPBDT dan SISRUT dan melayani Home Care, Telemedicine dan medical evakuasion. contohnya penjemputan pasien, kasus- kasus kebencanaan, medical asisten yaitu pendampingan pasien,  seperti pasien yang tidak memiliki keluarga atau medical ivent seperti acara konser, family gatring dan karyawan perusahaan, bisa juga mendampingi pasien yang akan berobat ke luar negeri.

Sejauh ini untuk pendampingan berobat keluar negeri ini sudah sampai ke Malaysia Fasilitas yang dimiliki ada 5 Ambulance, di antaranya 2 merci yang salah satunya untuk pendampingan RI 1, dan 1 motor, untuk jumlah pasien yang sudah ditangani sekitar 5000.

Efektivitas dan akurat dari pelayanan ini ada beberapa syarat :
Pasien yang sudah ada rekam medis dari  rumah sakit  dan untuk penanganannya disesuaikan kebutuhan pasien dengan membawa alat penunjang yang dibutuhkan, seperti cek darah yang nanti akan dibawa RSUD untuk mengetahui hasilnya, kecuali untuk alat medis yang sifatnya besar seperti Cittyscan atau MRI, karena alat tersebut tidak mungkin bisa dibawa keluar RS karena keadaan tertentu, pasien bisa dibantu dengan cara dijadwalkan untuk datang atau dibantu dengan fasilitas Ambulance  Cageur.

Rencana kedepannya untuk sosialisasi tim Cageur kepada masyarakat karena belum terlalu masif walaupun sudah ada kunjungan dari Kemenkes  ke RSUD Cibinong dan sudah mendapatkan arahan dan anjuran untuk diutamakan dalam pelayanan di Telemedicinenya, dan berharap bisa memfasilitasi untuk pasien - pasien di wilayah yang jauh dari Kabupaten Bogor, tidak terjangkau faskes. 
Bilamana ada kendala seperti sulit signal, Telemedicine tidak terbatas hanya pada pasien yang menghubungi, bisa melalui Bidan, Puskesmas atau klinik kesehatan terdekat untuk membantu menghubungi rumah sakit untuk konsultasi. 

Akan tetapi Tim Cageur ini masih memiliki kendala terkait biaya karena untuk pelayanan Telemedicine ini belum dikaper oleh BPJS, akan tetapi Tim ini masih melakukan pendekatan dan memerlukan dukungan dari pemerintah. Tapi  Telemedicine ini sudah terintegras dengan pelayanan 112 SETDA, ada salah satu personil yang melayani 24 jam,  bila diperlukan penjemputan bisa di call 119 PSC atau Ambulance lain untuk memfasilitasi  kegawat daruratan medis. 

Adapun untuk pelayanan ini bisa melayani yang menggunakan asuransi yang sudah ada bentuk kerja samanya. 

Untuk pasien yang sudah ada rekam medis di rumah sakit  lain tetap bisa membantu untuk menginput data dan mendaftarkan ke RSUD. 

Untuk standarisasai pelayanan Home Care Telemedicine ini,  menyesuaikan dengan aturan yang berlaku di RSUD. 

Untuk pasien rujukan yang sebagian sudah dikafer oleh BPJS,  tetapi untuk biaya penjemputan keluar rumah sakit  belum dikafer. 

Paramedis yang bertugas di Tim Cageur ada 2 dokter umum, 14 perawat bidan dan 1 administrator, akan tetapi untuk pelayanannya karena bestnya adalah RSUD tidak terbatas hanya diinstalasi Cageur saja,  jadi masih bisa melibatkan seluruh SDM di RSUD Cibinong. 

Tidak usah khawatir mengenai biaya, bagaimana pun Telemedicine dan Home Care ini RSUD adalah rumah sakit milik pemerintah, walaupun tarif berbayar tetap saja sangat bersaing karena ada PERDA, untuk pasien yang kurang mampu dan perlu penanganan pengobatan khusus akan dikomunikasikan dengan pimpinan untuk kebijakan - kebijakan lebih lanjut, bisa juga melibatkan Dinkes atau ke Bupati.

Untuk tindakan Telemedicine ini sendiri tidak harus dilakukan di RSUD, bisa saja dilakukan d klinik setempat bila peralatan medisnya memadai. (Yanti)
© Copyright 2022 - moralitynews.com